LIPUTAN-MALUT.com
NEWS TICKER

Oknum Pegawai Dinkes Diduga “Bisnis” Alat Cek Suhu Tubuh. Sekda Kepsul Janji Telusuri Siapa Oknum itu

Sabtu, 13 Juni 2020 | 2:04 pm
Reporter: Rismit Theapon
Posted by: LIPUTAN MALUT
Dibaca: 1736
Sekda Kepulauan Sula, Syafrudin Sapsuha (Foto Rismit Liputan Malut)

SANANA,Liputan-Malut.com- Ditengah pandemi Covid 19 ini banyak yang menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan, salah satunya usaha menjual alat Thermometer infared atau termometer tembak yang dipakai untuk mengukur suhu tubuh dijual dengan harga tembus Rp. 2.500.000

Harga Alat Thermometer infared atau termometer tembak itu terungkap sebesar Rp 2,5 juta untuk 1 unit itu terungkap melalui pengakuan Bendahara Desa Kou Kecamatan Mangoli Timur Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Ajis Theapon.

Menurut Ajis, alat thermometer yang dipakai mengukur suhu tubuh untuk mencegah peyebaran virus Corona Covid-19 itu di jual oleh oknun pegawai Dinas Kesehatan kepada Pemerintah Desa Kou satu unit senilai Rp 2.500.000 dan meski harganya tinggi pihaknya harus membeli karena untuk kebutuhan relawan Desa Kou dalam pencegahan penyebaran Covid 19. “Harga 2 unit alat jadi Rp. 5 juta, belinya di Dinas kesehatan Kabupaten Kepulauan Sula,”ungkap Ajis

Terpisah Sekretaris Daerah (Sekda) Kepulauan Sula, Syafrudin Sapsuha yang juga Plt Kadis Kesehatan saat dikonfirmasi Wartawan mengaku kaget dengan harga alat Thermometer atau termometer tembak untuk cek suhu tubuh dijual di oknum di Dinas Ksehatan senilai Rp. 2.500.000/unit.

“Waduh beta (saya) cek dulu. Bantu beta cari tahu diam-diam pegawai sapa yang jual itu,”kata Syafrudin melaui via watsap Sabtu (13/6/2020).

Syafrudin bilang dirinya akan menulusuri oknum pegawai Dinas Kesehatan yang menjual alat Thermometer atau termometer tembak untuk cek suhu tubuh. Sebab alat tersebut yang ada Dinas kesehatan tidak bisa diperjual belikan.

“Saya akan cek oknum pegawai itu, untuk mengetahui alat cek suhu tubuh yang dijual sehingga dapat memastikan kalau alat yang dijual itu dari Dinas Kesehatan ataukah alat itu milik pribadi pegawai tersebut sehingga dijual ke Bendahara. Tolong cari tahu di Bendahara Desa siapa oknum pegawai Dinkes yang menjual alat itu,” tutupnya (rt)

Berita Lainnya